A Cup of Tea for Writer
Suatu hari, penerbit Stiletto membuat undangan menulis yang
disebarkan melalui media sosial. Karena tertarik dengan temanya yakni seputar
pengalaman yang paling berkesan selama menggeluti dunia kepenulisan., saya pun
ikut. Alhamdulillah, tulisanku bisa masuk bersama tulisan penulis lainnya.
Buku antologi ini diterbitkan pada tahun 2012. Sudah cukup lama
sih, tapi rasanya tak salah bila saya angkat kembali dan menuliskannya ke blog.
Hitung-hitung buat portofolio sebagai pengukir jejak kalau saya juga menulis di
buku ini.
Berikut tulisanku yang dimuat di buku antologi tersebut.
PELAJARAN DARI MAWAR
“Aku ingin kisahku ini
dibuat menjadi cerpen. Bisa kan?” pinta Mawar lirih padaku usai menceritakan
kisah cintanya yang baru saja kandas di tengah jalan. Sepasang matanya yang
basah kemudian menatapku penuh harap.
Aku mengangguk sebagai jawabannya. Pelan-pelan tanganku mengusap butiran bening yang hampir menetes di pipiku. Rupanya aku ikut terhanyut mendengar kisah Mawar barusan.
Mawar adalah salah seorang teman seangkatanku di kampus. Meski kami tidak terlalu akrab tapi rupanya ia juga tahu kalau aku suka menulis dan hasil tulisanku sering dimuat di koran. Padahal waktu itu hanya beberapa orang yang tahu kalau selain sebagai seorang mahasiswi aku juga aktif menulis di media. Beberapa orang itu yakni para sahabatku serta beberapa orang senior yang juga aktif di dunia literasi.
Entah darimana Mawar kemudian berinisiatif untuk menemuiku dan meminta dibuatkan cerpen. Aku sampai terkejut ketika sehabis mata kuliah English Drama, tiba-tiba ia mengajakku ke suatu tempat karena ingin ngobrol hanya berdua denganku.
Rupanya hal ini yang hendak disampaikannya padaku. Mawar baru saja diputuskan oleh Kak Andi, salah seorang senior kami. Setelah beberapa bulan berpacaran kemudian Kak Andi mengutarakan kalau ia sebenarnya tidak pernah mencintai Mawar dan menginginkan hubungan mereka segera berakhir. Rupanya Kak Andi sengaja memacari Mawar dengan tujuan untuk lebih menghidupkan salah satu karakter tokoh dalam cerita terbarunya.
Tentu saja keterusterangan Kak Andi membuat hati Mawar hancur.
Padahal Mawar telanjur jatuh cinta pada Kak Andi. Gadis lugu itu sama sekali
tak menduga kalau semua ini hanya sandiwara belaka. Kak Andi memang tipe sosok
yang nyaris sempurna. Tampan, cerdas, ramah serta memegang sebuah jabatan
penting di organisasi kemahasiswaan. Tak heran bila ia termasuk salah seorang
mahasiswa terkenal di kampus.
Aku pun mulanya tidak percaya ketika mendengar kalau mereka jadian.
Rasanya agak mustahil Kak Andi melabuhkan cintanya pada Mawar, sosok yang
sangat biasa-biasa saja. Tapi waktu itu aku berusaha menepis keraguanku
sendiri. Bukankah cinta itu tak bisa diukur dengan logika. Love is blind, kata
orang-orang. Lagipula apa salahnya Kak Andi jatuh cinta pada Mawar. Siapa tahu
aktivis yang satu ini memang suka dengan tipe cewek seperti Mawar. Lagian, ini
juga bukan urusanku kok.
*
Tanpa membutuhkan waktu lama akhirnya kisah Mawar itu berhasil
kutuangkan dalam bentuk sebuah cerpen. Sengaja hasilnya tak kuperlihatkan
terlebih dahulu pada Mawar. Aku ingin memberi kejutan padanya bila nantinya
cerpen ini berhasil dimuat. Alhamdulillah, sesuai dengan perkiraanku cerpen itupun
dimuat tak lama setelah kukirimkan langsung ke kantor redaksinya. Mawar sangat
senang kisahnya dibuat cerpen apalagi berhasil dimuat di koran. Mawar merasa
dapat sedikit membalas sakit hatinya karena di cerpen itu aku memang sengaja
mendeskreditkan Kak Andi.
Aku turut senang dengan semua ini. Pertama karena aku berhasil
menghadirkan kembali keceriaan di wajah Mawar yang belakangan ini suntuk
gara-gara patah hati. Kedua, tentu saja isi dompetku ikut menebal dari honor
pemuatan cerpenku.
Tapi sayangnya aku melupakan satu hal. Aku terlalu bersemangat
ingin membantu Mawar sehingga mengabaikan hal penting ini. Aku telah teledor
dan keteledoranku itu harus kubayar dengan mahal. Aku memakai nama serta tempat
kejadian yang nyata dalam cerpenku. Padahal koran yang memuat cerpenku itu
adalah koran lokal yang sangat mudah diperoleh di kotaku. Selain itu banyak
temanku yang senantiasa memantau koran tersebut karena banyak juga yang sering
mengirim tulisan ke sana.
Salah seorang yang mengetahui pemuatan cerpen itu adalah Kak Andi.
Ternyata keluarga Kak Andi juga berlangganan koran tersebut. Tentu saja Kak
Andi langsung bisa menebak kalau cerpen itu berkisah tentangnya. Kejadian ini
langsung saja membuat Kak Andi menabuhkan genderang perang padaku. Beberapa orang
kakak senior yang mengetahui kejadian ini juga sangat menyesalkan kecerobohanku
kali ini. Mestinya aku menggunakan nama dan tempat kejadian fiktif agar aman
dan tak membuat tersinggung pihak manapun.
Kak Andi mencelaku habis-habisan. Lewat tatapan matanya yang tajam
ia menudingku. Menurutnya mestinya sebagai sesama penulis kami bisa saling
menjaga. Bukannya malah menjatuhkan seperti caraku ini. Akupun membela diri.
Kukatakan kalau aku tak pernah bermaksud menjatuhkan nama baiknya. Aku hanya
membela temanku yang seenaknya dipermainkan oleh seseorang. Aku marah setelah
mendengar pengakuan Mawar karena bagiku cinta itu sesuatu yang sakral yang tak
bisa seenaknya diumbar maupun dibuat main-main.
Menurutku, untuk menghidupkan karakter para tokoh yang ada dalam
sebuah cerita tak perlu sampai memakai cara yang bisa merugikan diri sendiri
maupun orang lain. Aku pernah menulis tentang kisah seorang pembunuh berdarah
dingin maupun kisah seorang perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual.
Alhamdulillah semua tulisanku itu dimuat tanpa aku perlu menyamar menjadi
seorang pembunuh bayaran maupun menjadi korban pelecehan seksual sebelumnya.
Meski demikian aku tetap meminta maaf karena ternyata tulisanku
telah menyinggungnya. Bagaimanapun aku memang bersalah karena telah membuka
aibnya di depan umum. Untungnya saat itu belum marak kasus pencemaran nama baik
sehingga hal ini tak perlu berlanjut di meja hijau. Walau demikian hubunganku
dengan Kak Andi tak lagi sebaik dulu. Kejadian ini sempat membuatku down dan
berhenti menulis untuk sementara waktu. Beberapa tulisanku yang sudah jadi
kuarsipkan begitu saja tanpa segera mengirimnya seperti kebiasaanku selama ini.
Ada rasa khawatir tulisanku nantinya menimbulkan masalah lagi. Untungnya hal
ini tidak berlangsung lama. Berkat dukungan para sahabat aku kembali
bersemangat untuk menulis. Tulisan yang telah kuarsipkan kukirimkan kembali ke
alamat dua redaksi koran di kotaku.
Alhamdulillah, aku kembali bisa produktif membuat tulisan. Ternyata
kejadian ini juga membawa hikmah yang lain bagiku. Cerpen Mawar ini membuat
namaku semakin terkenal di kampus. Dan berkat promosi Mawar banyak diantara
temanku yang kemudian meminta untuk didengarkan kisahnya dan dibuatkan cerpen
seperti Mawar. Tentu saja aku tak menolak semua permintaan itu. Bagiku semua
ini adalah rezeki. Dengan sendirinya ide datang menghampiri tanpa aku perlu
bersusah payah mencarinya. Bukankah ide bagi seorang penulis adalah sesuatu
yang sangat berharga. Apalagi kalau saat mendengarkan cerita sambil ditemani
bakwan gurih, cemilan favoritku di kantin kampus.
Walau begitu aku tidak serta merta mengiyakan permintaan
mendengarkan cerita itu. Mereka harus menyesuaikan waktu karena aku punya
seabrek kegiatan harian. Selain sebagai salah seorang mahasiswi sebuah
universitas swasta terkenal di Indonesia Timur aku juga aktif di organisasi
kampus, berteater, siaran radio serta magang di sebuah koran lokal yang baru
berdiri.
Ternyata bukan hanya permintaan mendengarkan cerita yang
berdatangan. Beberapa orang teman juga meminta untuk diajarkan membuat tulisan
khususnya cerpen. Rupanya mereka juga tertarik dengan dunia ini tapi bingung
tak tahu harus memulai darimana. Sebahagian yang lain meminta bantuanku untuk
mengoreksi hasil tulisan yang telah mereka buat.
Ternyata banyak juga yang selama ini rajin mengirimkan tulisan
mereka ke media. Hanya saja tulisan mereka belum berhasil dimuat. Senang
rasanya bisa berbagi bersama teman. Hanya saja aku kesulitan ketika diminta
untuk mengajari mereka membuat tulisan. Bukannya aku tak ingin berbagi ilmu
tapi aku benar-benar tak tahu banyak soal teori menulis. Tak banyak yang
percaya ketika kuutarakan hal ini. Menurut mereka aku pastilah menguasai banyak
teori sehingga bisa produktif menghasilkan tulisan.
Padahal tulisan yang selama ini kuhasilkan hanyalah berdasarkan
feeling dan bekalku sebagai sebagai seorang kutu buku selama bertahun-tahun.
Akhirnya aku hanya memberi mereka tips menulis yang juga merupakan tipsku.
Membaca, membaca dan membaca. Tanpa membaca maka impian untuk menjadi seorang penulis
hanyalah fatamorgana belaka. Tanpa membaca maka jangan harap bisa menghasilkan
sebuah tulisan yang bagus.
Alhamdulillah, hobby menulis telah membuatku merasa mempunyai nilai
lebih dibandingkan mahasiswa yang lain. Apalagi hobbiku itu tidak membuat
prestasi akademikku menurun. Semuanya dapat berjalan dengan baik bahkan saling
mendukung satu sama lain.
Satu hal yang takkan pernah kulupa dan akan kujadikan sebagai
pelajaran adalah mengambil hikmah dari kejadian cerpen Mawar. Untuk selanjutnya
aku takkan menuliskan nama tokoh maupun tempat kejadian sebenarnya dalam
cerpen-cerpenku. Cukuplah keteledoranku itu membuatku kehilangan satu teman
baik. Untuk selanjutnya aku akan lebih berhati-hati. Aku tak ingin kasus serupa
menimpaku lagi.
Semoga.
Kover Belakang A Cup of Tea For Writer
***
* Tulisan merupakan salah satu tulisan dari buku antologi A Cup Of
Tea For Writer. Tulisan ini dimuat sebagaimana aslinya dan mohon maaf bila
kurang nyaman karena banyak yang menyalahi kaidah penggunaan tanda baca.
Maklum, saat itu saya belum tertarik tuk jadi editor, jadi bawaannya nulis
semau gue aja.













.jpg)

0 Comments:
Posting Komentar