Diary Emak Pelupa
Menulis
buku antologi merupakan hobi yang beberapa waktu lalu dengan penuh semangat
kugeluti. Alhamdulillah, sudah lahir puluhan buku antologi dengan berbagai
genre, baik untuk kalangan dewasa maupun anak-anak.
Nah,
salah satu antologi tersebut adalah buku ini yang berjudul Diary Emak Pelupa.
Buku ini sebenarnya bukanlah buku baru. Kalau tidak salah ingat, buku ini
diterbitkan pada Maret 2021 lalu dan diterbitkan oleh CV Future Business
Machine Solusindo.
Dalam
buku ini, saya menuliskan pengalaman saat menjalankan peran sebagai Emak di
negeri jiran, Malaysia. Kisah selengkapnya bisa disimak berikut ini.
Balada Beras
Haeriah Syamsuddin
“Astaghfirullah, beras habis!” seruku dari dapur. Saat
itu aku bersiap untuk memulai masak di dapur.
Duh,
bagaimana aku bisa melupakan benda yang sangat penting itu. Tanpa beras, seenak
apa pun hidangan yang kusajikan untuk makan malam, tentu takkan ada artinya.
“Beras
habis? Kita makan apa dong?” rupanya si kecil Hilyah mendengarkan seruanku.
Hilyah
memang ibarat bayangan, dia selalu ada di dekatku. Bahkan, terkadang aku tidak
sadar kalau makhluk kecil yang kini berumur 6 tahun itu telah berada di sisiku.
Saat aku berkeluh kesah, tiba-tiba saja celutukannya menghamburkan semua
imajinasiku.
“Beras
habis? Asyik, makan di luar lagi … ” kali ini si sulung yang berkomentar
disusul teriakan setuju dari saudara-saudaranya yang lain.
Ealah,
Nak, ini bukan ajang pemilihan ketua RT. Kok pada voting, sih.
“Aku
mau makan di Warung Tom Yam Marshima” kata si sulung.
“Aku
mau di Kambing Bakar Ghongzhu” kata si nomor dua.
“Aku mau di Warung Syakeela” kata si nomor tiga.
“Aku ikut di Marshima” kata si nomor empat.
“Aku ikut di Ghongzhu!” kata si nomor lima.
Satu
per satu anakku menyebutkan pilihan mereka. Semuanya adalah warung makan yang
biasa kami datangi. Maklum, selama menetap di Malaysia, kami ikut
“terkontaminasi” dengan kebiasaan orang Malaysia yang senang makan di luar. Ya,
masyarakat di sini memang sering kali menghabiskan waktunya di warung makan.
Tak heran, warung makan selalu terlihat penuh, terutama di jam-jam makan.
“Ini
ada apa kok ribut-ribut?” seperti biasa, suamiku selalu telat meng-up date
situasi di rumah. Kesibukannya di kantor, yang sering dibawanya berlanjut di
rumah, membuatnya harus berkonsentrasi penuh menyelesaikan semua pekerjaan itu.
Dengan
cepat Hilyah menjelaskan apa yang terjadi. Meski paling kecil, ia selalu merasa
paling tahu kondisi di rumah. Maklum, aku dan Hilyah lebih sering berada di
rumah karena suami dan anak-anakku yang lain setiap pagi beraktivitas di luar
pagi hingga sore hari.
“Ya
udah, kita makan di luar aja.” Putus suamiku kemudian yang langsung disambut gembira
oleh kelima anakku.
Hore!!!!!
*
Besoknya, suami mengajakku
berbelanja ke supermarket langganan kami. Kebetulan, saat itu hari libur
sehingga anak-anak bisa diajak sekalian. Kami senang berbelanja di sini karena
selain harganya lebih murah dibanding tempat lain, di sini juga sering kali
menawarkan diskon untuk barang-barang tertentu. Namanya juga emak-emak,
pastinya suka dengan diskonan. Namun, tidak hanya itu, barang-barang di
supermarket ini juga lebih lengkap disbanding tempat lain. Kami pun bisa
sekalian one stop shopping di tempat ini.
“Yah,
catatan belanjanya kelupaan, padahal tadi Ummi taruh di atas meja biar gampang ngambilnya!”
seruku di tengah perjalanan. Duh, kok bisa lupa sih, padahal tadi aku sudah menuliskan
semua kebutuhan rumah tangga yang akan dibeli.
“Jadi
bagaimana? Kita kembali untuk mengambil catatan itu?” tanya suamiku sembari melambatkan
laju mobil.
“Hm,
kayaknya gak usah deh. Insya Allah, Ummi ingat semuanya. Kan, Ummi yang catat tadi.
Lagian, supermarketnya sudah di depan mata.”
“Jangan
khawatir, Ummi. Nanti, Hilyah bantu ingatkan.” celutuk Hilyah dari belakang.
Tuh, kan, bayangan kecilku kembali menyelutuk. Hihihi.
Berbekal
ingatan, aku mulai mengambil satu per satu barang kebutuhan yang stoknya habis
atau mulai menipis. Sementara itu, suami dan anak-anakku berpencar mencari kebutuhannya
masing-masing. Biasanya sih, pilihan mereka tidak jauh dari cemilan ini dan
itu. Meski anak-anak bebas mengambil apa pun, tetap saja nanti pilihan mereka
akan kami sortir. Maklum, anak-anak suka ngasal ngambilnya, padahal jajanan
tersebut belum tentu sehat.
Alhamdulillah, acara belanja hari ini berjalan lancar, meski ada yang kurang puas karena cemilan pilihannya kena sortir. Namun, biasanya hal itu berlangsung tidak lama. Sampai rumah, anak-anak biasanya sudah lupa dengan kekesalannya.
Sementara itu, aku sudah
merencanakan jenis makanan yang akan kupersembahkan untuk makan siang hari ini.
Kebetulan, tadi aku membeli beberapa ekor ketam. Ketam adalah makanan kesukaan
kami sekeluarga. Lagipula, sudah lama rasanya suami dan anak-anak tidak
menikmati sajian kepiting tumis santan, kesukaan mereka. Hm, pastinya
orang-orang terkasih itu akan makan dengan lahap. Terlebih, bila ketam tersebut
disajikan dengan sepiring nasi hangat.
“Ups,
nasi hangat?”
“Astaghfirullah,
aku lupa membeli beras!” seruku tertahan, tetapi bisa didengar oleh seluruh
yang ada di dalam mobil.
“Astaghfirullah,
aku lupa mengingatkan Ummi!” balas Hilyah juga tertahan.
Mendadak kurasakan mobil melaju lebih
pelan.
“Kok, bisa lupa, sih?” Suamiku
terlihat kesal. Bagaimana tidak, supermarket yang tadi kami datangi sudah
tertinggal jauh di belakang. Tinggal satu belokan lagi, kami sudah tiba di rumah.
Aku
menjawab. Huhuhu, semua ini pasti gara-gara aku lupa membawa catatan yang
sebelumnya telah kupersiapkan
sehingga semua jadi berantakan begini. Duh, aku kok pelupa banget, sih?
“Hah,
lupa beli beras? Masa makan di luar lagi? Bosan, aku kangen masakan Ummi!” celoteh
anak-anakku menanggapi apa yang terjadi.
Hikz,
ucapan anak-anakku membuatku terharu sekaligus merasa sangat bersalah. Meski tak
piawai memasak, Alhamdulillah, anak-anak selalu suka dengan masakan yang
kusajikan.
Dan,
aku tak banyak bicara ketika suami kemudian melewati perumahan kami. Aku tahu, suami
akan ke minimarket yang berada di ujung jalan sana. Harganya memang sedikit
lebih mahal, tetapi itulah opsi terbaik daripada harus kembali ke supermarket
tadi.
“Ingat,
beli beras. Be Ee eR Aa Ss, BERAS!” suami mengingatkan kembali sebelum aku masuk
ke minimarket itu.
Hikz.
***
Profil Penulis
Haeriah Syamsuddin adalah seorang
IRT dengan 5 orang anak yang lucu dan cerdas. Saat ini, penulis bermukim di
Terengganu, Malaysia. Penulis telah menyukai dunia literasi sejak kecil dan
saat ini telah menghasilkan beberapa buku, aktif sebagai blogger, dan menulis
di beberapa media online serta tercatat sebagai kontributor tetap sebuah
majalah dakwah.
Serba-Serbi Mudik Menegangkan
Buku antologi serie mudik ini menceritakan kisah kami sekeluarga saat masih menetap di sebuah kota kecil yang ada di Sulawesi Selatan, Kota Palopo namanya. Kisah ini terjadi saat anak kami baru 3 orang.
Series Mudik ini sendiri terdiri dari 2 seri dan tulisan saya dimuat di seri pertama. Mudik memang merupakan salah satu hal yang paling menyenangkan bagi para perantau adalah bisa pulang kampung dan merayakan lebaran bareng keluarga besar di sana. Ini pulalah yang senantiasa ditanyakan keluarga besar kami setiap kali kami harus kembali ke perantauan....
"Lebaran nanti pulang kan......"
"Mau...mau bangets...tapi......"
Inilah ceritanya ....
Senangnya bisa kembali mudik tahun ini. Mulanya kupikir hari raya tahun ini akan kami rayakan di daerah tugas suami karena kesibukan suami yang seperti tak ada habisnya. Ternyata kesibukan itu bisa diselesaikan sesaat sebelum hari raya tiba. Suami kemudian memutuskan untuk mudik tepat di hari raya. Meski tak mendapatkan hari raya pertama bersama keluarga besar tapi setidaknya suasana lebaran masih terasa, keluarga besar yang dari daerah lain juga masih berkumpul.
Keesokan harinya, usai shalat ied serta bersilaturrahmi ke beberapa rumah orang yang kami tuakan, kami pun bergegas pulang untuk segera menyiapkan keperluan mudik. Aku yang selalu kebagian tugas packing untungnya telah terbiasa bekerja secara mendadak. Tanpa kesulitan berarti dua buah tas besar,sebuah tas berukuran sedang dan beberapa kardus bekas mie instant berisi hasil bumi pemberian teman kami bawa sebagai oleh-oleh telah siap untuk dibawa.
Malamnya kami sekeluarga telah bersiap untuk berangkat. Selama ini kami selalu memilih perjalanan malam. Dengan demikian, anak-anak bisa tidur dengan tenang tanpa diganggu rasa panas dan bosan. Maklum, jarak yang akan kami tempuh sekitar 400 kilometer yang biasanya memakan waktu sekitar sembilan jam.
Setelah semua dirasa cukup, kami pun segera meninggalkan rumah.Dengan ditemani beberapa orang kawan suami, kami diantar keluar menuju jalan propinsi yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat kediaman kami. Di sanalah rencananya kami akan menunggu bis yang biasanya melewati jalan tersebut menuju kota kelahiran kami.
Cukup lama kami menunggu bis yang lewat. Aku dan ketiga anakku
menunggu di depan sebuah gudang beras sementara suamiku menunggu di pinggir
jalan untuk mencegat bis yang lewat. Beberapa orang kulihat juga
melakukan hal yang sama. Menunggu bis di pinggir jalan ketimbang mengambil di
terminal.
Mungkin alasan mereka sama dengan kami. Memilih tak mengambil bis di terminal selain karena jarak terminal cukup jauh harganya pun standard.Sementara bila menunggu di pinggir jalan maka kami tak perlu repot ke terminal terlebih dahulu dan juga dari segi harga lebih murah karena bisa menego dengan supir dan kernet.
Sayangnya setelah beberapa lama menunggu, bis yang kami harapkan
tak kunjung datang. Beberapa bis yang lewat ternyata telah penuh sehingga tak
ada yang berhenti untuk mengambil kami. Ternyata kami salah perhitungan,
jumlah penumpang mudik tetap membludak meski kami telah memilih hari tepat di
hari raya. Kami pikir, hari ini jumlah penumpang berkurang karena hari raya
telah lewat dan mereka belum saatnya balik.
Entah berapa lama kami menunggu.Alhamdulillah anak-anakku tergolong anak yang sangat mudah menyesuaikan diri. Mereka bisa enjoy di mana saja termasuk saat berada di pinggir jalan seperti saat ini. Kedua anakku yang salah satunya masih balita itu malah terlihat menikmati suasana malam.Mereka tak henti-hentinya becanda dan sesekali berkejar-kejaran.Tentu saja kami terus mengingatkan agar mereka tak lari menuju ke jalan.
Sementara bayi kecilku justru pulas berada di balik kerudung lebarku.Hembusan angin malam tak mengusiknya malah beberapa kali aku harus mengusap keringat muncul di dahinya.Sesekali aku mengeluarkannya agar ia tak sesak berada di tempat pengap.
Ternyata bukan anak-anak yang kemudian merasa jenuh menunggu
seperti ini justru aku yang merasa bosan.Suami yang berdiri di tepi
jalan pun kulihat sudah gelisah dari tadi.Sepertinya ia juga mulai
bosan sepertiku. Beberapa kali ia menoleh ke arah kami untuk meminta
kesabaran kami.
Saat itulah sebuah mobil angkutan pedesaan jenis MPV kulihat menghampiri
suamiku.Sepertinya sang supir sedang menawarkan mobilnya untuk kami pakai
mudik. Setelah berbicara beberapa lama, suami kemudian menghampiriku dan
meminta pendapatku apa masih ingin menunggu bis yang belum tentu datangnya atau
memutuskan untuk menggunakan kendaraan ini saja.
Kami berembuk sejenak.Rasanya kami tak punya pilihan lain saat itu. Menunggu bis yang masih menyisakan kursi penumpang rasanya semakin mustahil apalagi malam bertambah larut. Sementara memilih mobil MPV ini juga bukan pilihan menyenangkan, selain karena kurang nyaman biasanya supirnya juga ugal-ugalan.
Akhirnya kami memilih opsi yang kedua. Sepertinya pilihan itu yang terbaik saat ini. Tak lama berselang kami telah berada di dalamnya bersama para penumpang yang lain. Sebelumnya suami telah membooking tempat duduk di “bagian kelas”, istilah yang diberikan untuk tempat duduk memanjang yang berada di tengah, agar kami bisa sedikit merasa nyaman.
Pelan-pelan mobil mulai meninggalkan tempat kami menunggu sedari
tadi.Kedua anakku seperti biasa berebut tempat duduk, mencari posisi yang
mereka rasa nyaman.Semuanya ingin duduk dekat jendela agar bisa menikmati angin
yang berhembus kencang.Maklum, mobil yang kami tumpangi tidak difasilitasi
dengan AC sehingga hawa terasa cukup panas.
Tentu saja kami tak mengabulkan permintaan mereka.Untungnya
anak-anak mau mengerti,sebagai gantinya aku menawarkan bekal yang kubawa.
Keduanya pun kini tenang sambil menikmati snack kesukaan mereka.
Alhamdulillah setelah merasa kenyang dan ngantuk, kedua anakku
kemudian tertidur.Sementara si kecil sejak tadi anteng dalam
gendonganku,mungkin guncangan mobil dirasa seperti sedang diayun.
Setelah anak-anak nyaman dalam tidurnya, tinggallah aku dan suami yang justru tidak bisa tidur. Seperti yang kami duga, mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali kami hampir terpental ke depan gara-gara supir menginjak rem secara mendadak.Himbauan kami agar supir membawa mobil lebih pelan hanya diikuti sesaat karena tak lama kemudian mobil kembali ngebut.
Untungnya anak-anakku tetap nyenyak dalam tidurnya. Untuk meredam
kecemasan, sepanjang jalan aku tak henti-hentinya berdzikir memohon
perlindungan agar kami bisa tiba dengan selamat.
Ternyata bukan hanya itu “kejutan” yang diberikan supir. Saat jarak perjalanan tersisa sepertiga tiba-tiba sang supir menghentikan mobil di pinggir hutan yang gelap dan sunyi. Mulanya kupikir mobil mengalami kerusakan.Tapi ternyata aku keliru, rupanya sang supir merasa sangat mengantuk sehingga memutuskan untuk tidur terlebih dahulu.
Entah apa yang ada dalam pikiran sang supir sehingga nekad berhenti di tempat seperti ini. Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang jahat yang kemudian merampok kami?Apalagi saat ini sedang marak mobil maupun bis antar propinsi yang dirampok ditengah jalan.Kalau mau tidur, kan bisa memilih tempat yang ramai sehingga lebih aman.
Tapi semua protesku hanya bisa kusampaikan pada suamiku. Menurut suamiku, biarlah dia beristirahat daripada membawa mobil dalam keadaan mengantuk.Tentu akibatnya bisa lebih fatal.
Menyadari mobil tak lagi bergerak, satu persatu anakku mulai bangun. Mereka mulai gelisah dan merasa tak nyaman karena hawa panas dan sempitnya ruang gerak. Tiba-tiba bayi mungilku menangis kencang, segala upayaku tak juga berhasil membuatnya diam. Suaranya yang melengking tentu saja sangat menganggu.
Salah satu yang merasa terganggu adalah pak supir yang sedang tidur dan tepat berada di bangku depanku. Akibatnya pak supir tidak bisa melanjutkan tidurnya.Untungnya, karena dengan begitu mobil kembali melaju meski aku agak ngeri karena sepertinya pak supir menjadi kesal karena tidurnya terganggu dan melampiaskannya dengan melajukan mobil lebih kencang.
Seiring dengan lajunya mobil, ketiga anakku kembali melanjutkan
tidurnya.Termasuk bayi mungilku yang kembali anteng dalam pangkuanku. Semilir
angin yang berhembus dari jendela mobil yang tidak rapat serta guncangan mobil
membuat mereka nyenyak kembali.
Tentu saja, aku tegang banget sepanjang sisa perjalanan ini. Kembali doa dan
dzikir dikencangin. Aduh Pak Supir, kayaknya dirimu enakan ikut balapan F1 aja
deh. Kemungkinan menangnya besar lho......
Alhamdulillah, Sesuai perkiraan, kami tiba tepat waktu dengan
selamat hingga di depan rumah mertua.Usai membereskan barang dan membayar
ongkos mobil kami pun segera masuk ke rumah yang sudah ramai dipadati oleh
saudara serta para keponakan. Alhamdulillah, kami tetap bisa merasakan suasana
lebaran meski harus berjibaku terlebih dahulu.Alhamdulillah ala kulli hal.
Sst, mau tahu cerita-cerita seru lainnya seputar mudik. Dapatkan di sini, di
buku ini....
Saat Lebih Nyaman dengan Berjilbab
Lebih Nyaman dengan Berhijab
merupakan salah satu tulisanku yang ada dalam buku antologi The
Miracle Of Hijab. Sesuai dengan judulnya, buku yang berisi kisah-kisah para
muslimah yang akhirnya memutuskan untuk berhijab, menutup aurat sebagaimana
perintah Allah dan Rasul-Nya.
Berikut adalah kisah yang saya tuliskan di buku ini. Happy
Reading!
LEBIH NYAMAN DENGAN BERJILBAB
“Serius kamu mau berjilbab? Gak gampang, lho!” ucap Nana, salah seorang sahabatku dengan nada tak percaya. Berdua dengan Sari, sahabatku yang lain, mereka kini telah duduk tepat di hadapanku. Keduanya menatapku lekat-lekat usai mendengar penuturanku barusan.
Pagi itu aku baru saja tiba di kampus ketika keduanya langsung menggiringku ke ruangan kelas yang masih kosong. Di sana mereka menginterogasiku, mempertanyakan kembali keputusanku untuk berpakaian lebih syar’i. Suasana seakan di gedung DPR, saat para wakil rakyat itu meminta pertanggungjawaban aparat negara yang membuat satu keputusan yang menurut mereka tidak popular.
“Insya Allah, doa’kan aku istiqomah, ya … ” aku menjawab mantap. Kubalas tatapan mereka. Kuingin mereka tahu kalau keputusan yang kuambil itu bukan main-main.
Kemudian keduanya berbisik dengan serius. Aku tahu mereka tengah meragukanku. Aku tahu keputusanku memang bukanlah hal yang mudah tapi aku pun sadar, aku harus berubah.
Aku bisa memahami ketidakpercayaan mereka. Mengingat siapa diriku selama ini. Cewek super tomboy yang senantiasa berpakaian seadanya. Aku lebih suka berpakaian ala cowok. Cukup dengan kaos oblong,celana jeans dan bersandal jepit. Lebih praktis menurutku ketimbang harus berpenampilan feminim seperti kawan-kawan perempuanku yang lain.
Dari segi penampilanpun seadanya. Aku paling malas berdandan. Paling aku hanya memakai pelembab untuk melindungi wajahku karena kebanyakan aktivitasku outdoor. Rambutpun senantiasa dipotong pendek. Selain karena merasa lebih nyaman, mama dan tante senantiasa menjulukiku mirip Indian bila rambutku mulai sedikit melewati bahu.
Akibatnya, di kampus aku sering diledek bila musim ujian tiba. Kampus kami mewajibkan mahasiswinya mengenakan rok di saat ujian. Kalau sudah begitu aku terpaksa mengenakan simpanan rokku satu-satunya. Rok hitam lipit yang sebelumnya milik adikku yang sudah tidak terpakai lagi.
“Lha, ternyata kamu cewek, toh?” goda kawan-kawanku bila melihatku tampil dengan rok tersebut.
Aku hanya bisa tersenyum kecut diledek seperti itu. Mereka menggodaku seperti itu karena kami memang telah terbiasa untuk saling meledek bila menemukan hal yang sedikit lain dari biasanya.
Tapi tentu saja keputusanku untuk berpakaian lebih syar’i tidak datang begitu saja. Semuanya melalui proses dan pergulatan batin. Aku pun tahu dan sadar sepenuhnya resiko apa yang akan aku hadapi sehubungan dengan perubahanku nantinya.
Semuanya bermula dari semakin intensnya aku bergaul dengan para akhwaat, ikut pengajian serta sharing berbagai hal dengan mereka. Hal ini yang kemudian banyak mempengaruhiku. Aku mulai memperhatikan agamaku, sesuatu yang selama ini tidak terlalu kupahami meski agama ini telah kuanut sejak lahir. Aku pun sadar untuk lebih banyak lagi belajar karena ternyata pengetahuan keagamaanku sangatlah sedikit.
Berbekal ilmu yang telah kuketahui, tentu saja tak cukup hanya sekadar dipelajari tanpa diamalkan. Maka mulailah aku mengaplikasikan ilmu yang kuperoleh itu terutama untuk diriku sendiri.
Untuk itu aku sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari fisik maupun mental. Dimulai dari mempersiapkan pakaian yang berbeda dari biasanya. Yah, aku ingin total berubah tidak setengah-setengah. Pakaian ala cowok akan kuganti dengan busana muslimah syar’i. Gamis panjang yang dipadu dengan jilbab lebar dengan panjang menutupi dada.
Alhamdulillah, semua faktor pendukung itu telah tersedia. Kini, tak ada lagi alasan untuk tidak segera berubah menjadi lebih baik. Tanpa mengeluarkan sepeser uangpun aku bisa mendapatkan busana syar’i tersebut. Beberapa orang teman yang mendukung perubahanku kemudian menghadiahkan busana syar’i mereka. Tentu saja aku sangat berterima kasih karena pemberian itu sangat bermanfaat. Terlebih saat itu aku tak bisa membeli pakaian syar’i itu karena keterbatasan dana.
Pertama kali mengenakan busana syar’i itu aku merasa sangat canggung. Setiap kali angin bertiup agak kencang aku akan langsung memegang gamisku serta ujung jilbabku erat-erat. Aku takut keduanya akan terangkat naik karenanya. Belum lagi, beberapa kali aku hampir terjatuh karena menginjak bagian bawah gamisku.
Teman-teman yang melihatku pun terbagi dua. Yang mendukung, memberikan ucapan selamat dan berdo’a agar aku bisa tetap istiqomah dengan perubahanku. Sedang yang lainnya malah mencibir. Mereka menudingku sok suci, sok alim dan berbagai tuduhan lainnya.
Alhamdulillah, semua telah kuantisipasi sebelumnya. Apalagi aku memiliki teman-teman yang senantiasa mendukungku. Mereka menguatkanku, termasuk dua orang sahabatku, meski mereka belum bisa berhijrah sepertiku.
Satu lagi yang kusyukuri dengan perubahanku itu ialah timbulnya perasaan aman dan tenteram dengan berbusana seperti ini. Dalam balutan busana syar’i aku tidak lagi menarik hati para cowok iseng yang biasanya senang menggoda. Sesekali memang masih ada yang iseng tapi sudah sebanyak dulu lagi. Itupun paling hanya iseng mengucapkan salam, tidak lebih.
Yang paling sering adalah menjawab pertanyaan ibu-bu yang kebetulan satu angkot denganku. Biasanya aku memang naik angkot kalau ke tempat kajian. Kebanyakan mereka bertanya dengan nada nyinyir meski ada juga yang bertanya karena penasaran.
“Duh, panasnya. Kamu kok tahan sih pakai pakaian seperti itu saat panas begini” kira-kira seperti itu pertanyaan mereka.
Biasanya aku menjawab dengan santai. Aku katakan saja kalau neraka Allah lebih panas ketimbang hawa siang hari di angkot. Atau kalau yang bertanya itu serius maka aku jawab juga dengan serius. Aku katakan semua ini adalah perintah Allah dan sebagai hamba-Nya kita hanya bisa taat dan patuh pada semua perintah tersebut.
Ternyata tanpa aku sadari, busana syar’i yang kukenakan adalah bagian dari dakwah islam itu sendiri. Aku bisa berdakwah di jalan, di angkot, di kampus bahkan dimanapun aku berada tanpa perlu banyak bicara.
Karenanya, aku juga senantiasa berusaha memperbaiki sikapku. Sebisa mungkin aku menyebarkan salam, menyapa para muslimah yang kutemui. Tak semuanya membalas salamku memang tapi setidaknya aku ingin mereka tahu kalau stigma bahwa muslimah yang dalam balutan busana syar’i adalah sombong dan menganggap hanya dirinya yang suci adalah tidak benar sama sekali. Kalaupun ada yang seperti itu, biasanya kembali ke pribadi masing-masing karena ajaran Islam sendiri tidak mengajarkan yang seperti itu.
Alhamdulillah, tak terasa sudah hampir lima belas tahun aku
mengenakan busana syar’i ini. Semoga aku senantiasa istiqomah
mengenakannya hingga maut menjemput. Aamiin ya Rabbal Alamin.
Storycake for Your Life
Storycake for Your Life dengan tema Mompreneur Kisah-kisah seru dan inspiratif tentang kehebatan dan keuletan para ibu yang berbisnis
Sembuh dan Sukses dengan Terapi Menulis
![]() |
| Tulisan dalam buku tersebut |
![]() |
| kaver kedua |
101 Perempuan Berkisah
Perempuan Pemetik Cahaya
Sekilas tentang GSM dapat dibaca di sini, Tentang Kami GSM
Para perempuan yang berhasil memaksimalkan potensi dirinya sehingga menjadi manusia-manusia terbaik yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi manusia yang lain. Merekalah para perempuan pemetik cahaya. pemberi sinar terang bagi kehidupan manusia yang lain.
![]() |
| PPC Indari Mastuti |
Jawabannya tentu saja kembali kepada diri kita masing-masing. Apa pun itu, sekecil apa pun itu, tentu saja akan sangat bermakna bagi kehidupan.
Keep Hamasah, Ladies!













.jpg)











.jpg)









